Feeds:
Pos
Komentar

Menjaga orang sakit ga selalu identik dengan suangat sibukk… Ada kasus dimana kita cuma duduk saja menjaga dia yang tidak sadar, atau kebetulan dirawat di kelas perawatan yang lumayan, sehingga keperluan buang hajat bisa minta bantuan perawat. Sepintas pekerjaan ini terlihat hanya duduk-duduk.

Tapi ternyata bila tidak diatur dengan baik, kegiatan ini akan habis dengan menonton TV/film dan mengecek medsos. ‘Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu merugi.’

Supaya waktu tidak terbuang sia-sia, mesti segera disikapi karena godaan hp itu berrraaattt… Maksudnya mau cek kabar kantor, ternyata muncul chat grup wa yang seru. Kemudian klik link-link wa, terus kemana-mana. Kalau ga yang sakit minta tolong, bisa 2 jam hanya lihat hp. Belum lagi godaan youtube.

Padahal dalam menemani orang sakit, banyak kegiatan produktif yang dapat dikerjakan, yang nilainya tidak terukur dengan materi. Saat sibuk merawat, pahala merawat orang dengan ikhlas, berlimpah. Bila lebih banyak waktu senggang, justru itu saat paling tepat untuk meningkatkan amalan ibadah kita : baca Al Qur’an, menambah hafalan surat, berzikir, menambah rokaat sholat yang mungkin terlewat sehari-hari akibat pekerjaan.

Menemani orang sakit memberi kesempatan kita untuk menghibur, menyemangati, curhat, memberi nasihat baik, bahkan menasihati diri sendiri. Saat sendiri, juga saat enak untuk berkontemplasi.

Bagi beberapa orang, merawat orang sakit yang mungkin artinya mengambil cuti dari pekerjaan, menguji untuk mengerem target duniawi, belajar tidak egois, dan lebih memprioritaskan keluarga. Coba renungkan, bila masih bisa bayar orang untuk jagain keluarga kita yang terbaring di RS, kita lebih milih kerja dan bayar orang, atau jagain keluarga kita?

20181002_154014

Iklan

Galau Mendidik Anak

Emak2, pernahkah galau dalam mendidik anak? Cung yang ga pernahūüėČ. Keseringan ngintip medsos tetangga, anaknya ini udah hafal lebih dari juz 30, yang itu sering dapat piala lomba, yang ono tampak berbakat di sebuah bidang. Sementara anak kita punya talenta, tapi seperti berjalan di tempat. Bukan kitanya yang ga mau mengikutkan dia ini itu, tapi si dia tampak malas pergi2 & lebih senang bermain2 bersama temannya di lingkungan rumah. Lanjut Baca »

Kenangan saya tentang RA/TK Al Ihsan Akbar adalah sebuah TK di lokasi yang tersembunyi, namun kualitasnya masyaallah… dua jempol! Lanjut Baca »

Sebuah sekolah TK dan SD yang terletak di dekat Monumen Lubang Buaya, Cipayung, dan Pondok gede. Sesuai dengan namanya, visi sekolah ini adalah membentuk anak Indonesia yang berwawasan global dan berkarakter. Lanjut Baca »

Kita sering mendengar berita keluarga pasien mesti pergi ke beberapa Rumah Sakit untuk mendapatkan kamar ICU. Tidak mudah mencari kamar ICU kosong. Hingga terakhir kita mendengar kabar kematian bayi Debora, 4 bulan, yang belum mendapat kamar PICU (sejenis ICU khusus untuk pasien anak-anak). Rasio ketersediaan ICU versus harapan pasien, keluarga, dan dokter untuk mendapatkan kamar ICU masih sangat kurang. Hal ini salah satunya terbukti dengan usulan warga DKI untuk dibangunkan suatu Rumah Sakit khusus bagi pasien yang memerlukan ICU (baca Warga USulkan agar Sandiaga Bangun Rumah Sakit Khusus ICU). Seringkali pasien dan keluarga tidak mengetahui tujuan seseorang dirawat di ruang ICU. Lanjut Baca »

Seseorang dikatakan menderita diabetes bila gula darah puasa dan gula darah 2 jam setelah makan di atas ambang batas normal. Sementara seseorang disebut menderita gangguan toleransi gula bila hanya salah satu yang melewati batas  normal.

Diabetes melitus sendiri ada 2 tipe: Tipe 1 (insulin dependent) dan tipe 2 (acquired/ akibat gaya hidup). Kemungkinan seseorang untuk memiliki diabetes mellitus tipe 2 meningkat pada seseorang yang memiliki riwayat diabetes pada orang tua /kakek neneknya. Bila diabetes tipe 1 pasti memerlukan insulin untuk pengobatannya, pengobatan diabetes tipe 2 justru tidak selalu dengan obat. Bila dengan modifikasi gaya hidup gula darah bisa terkontrol, maka pasien tidak memerlukan obat.

Gula darah saya mulai terlihat abnormal saat saya berusia sekitar 35 atau 36 tahun. Yang bermasalah tadinya hanya salah satu saja: gula puasa atau gula 2 jam setelah makan. Setelah beberapa bulan berjalan, justru gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sama-sama bermasalah. Gula darah puasa saat itu 120-an, dan 2 jam setelah makan sekitar 160. Padahal saya rajin melaksanakan puasa senin-kamis serta hanya makan buah saja saat siang. Sepertinya saya mewarisi bakat ini dari nenek saya.

Setelah 6 bulan, saya cek lagi tes toleransi glukosa oral, gula puasa saya 122 dan 2 jam setelah minum glukosa sekitar 200. Sejawat dokter spesialis penyakit dalam menyarankan saya untuk tes HbA1C, suatu tes darah yang menggambarkan kondisi gula darah selama 3 bulan terakhir. Tes ini penting untuk mengetahui seberapa jauh gula darah terkontrol. Kalau hanya pemeriksaan gula darah rutin bulanan, mungkin saja tidak menggambarkan kondisi sebenarnya, bisa saja sebelum pengambilan darah kita sedikit lapar mata, atau malah diet luar biasa.

Sebelum pengecekan gula darah selanjutnya, saya menemukan sebuah buku bagus yang membahas pola makan pasien diabetes. Setelah melakukan diet seperti di buku, gula puasa saya 140 (saat malam saya makan coklat sepotong kecil) dan gula puasa 2 jam  setelah makan 110. Saya makan berdasarkan panduan di buku tersebut. HbA1C saya 5,4% (nilai normal < 5,7%). Yang lebih hebat lagi, dengan menerapkan pola makan tersebut, trigliserida saya yang biasanya di atas 100, turun menjadi 74.

Kunci keberhasilan mengontrol gula darah kita adalah mengontrol asupan.

  1. Jam makan. Kapan jadwal makan?
  • Makan tetap 3x sehari namun perhatikan jenis dan jumlah makanan.
  • Antara makan berat satu dengan berikutnya, disarankan berjarak sekitar 6 jam.
  • Tidak dianjurkan makan malam lagi setelah jam 8 malam.
  • Diantara waktu makan berat dianjurkan memilih snack yang sedikit kalori dan tinggi serat, seperti buah.
  • Porsi makan malam lebih sedikit dibandingkan makan pagi dan siang. Saat ini gaya hidup nongkrong pulang kerja sering membuat kalori makan malam justru lebih banyak dibandingkan sarapan dan makan siang.
  1. Jenis makanan
  • PIlih makanan tinggi serat seperti sayur-sayuran dan buah. Gula pada makanan tinggi serat akan diserap perlahan-lahan namun cepat dibuang tubuh bila tidak dipergunakan.
  • Nasi putih saya ganti dengan nasi merah.
  • Sama sekali tidak minum minuman manis dan lebih memilih air putih.
  • Saat ini juga ada nasi hitam yang disebut-sebut mengandung serat yang lebih tinggi dibandingkan nasi merah serta kalori yang lebih rendah dibandingkan nasi merah.
  1. Jumlah makanan
  • Kebutuhan kalori saya sekitar 1600-1800 kalori (anda bisa memperkirakan kebutuhan kalori anda dari buku tersebut ataupun browsing).
  • Dalam 1 piring porsi makan saya, akan saya bagi 3 bagian : 1/4 bagian nasi merah (sekitar 3-5 sendok makan munjung), 1/2 bagian sayur dan 1/4 bagian berisi lauk pauk.
  • Di sela makan tersebut, bila lapar atau timbul hasrat ingin mengunyah, saya makan apel.
  1. Kemana-mana saya membawa nasi merah dan apel.
  2. Bila timbul keinginan untuk makan-makan yang indeks glikemiknya tinggi, saya batasi 1-2 sendok makan saja. Masih pengen sihh…, tapi kalau ingat nikmatnya hidup sehat, Alhamdulillah‚Ķ masih teralihkan.
  3. Kurangi begadang yang tidak perlu. Karena begadang mengakibatkan kita ingin ngemil.
  4. Pernah sekali dua khilaf makan roti di malam hari yang kalorinya saya perkirakan bisa 400-500 kal sendiri. Keesokan paginya, saya cuma makan buah dan menunggu hingga 12 jam sejak makan roti itu hingga makan berat. Gak ingin begini sering-sering.

Saya sadar, usia yang bertambah akan menjadikan metabolisme tubuh melambat sehingga perlu diimbangi dengan olahraga teratur untuk mempercepat metabolisme. Oleh sebab itu, saya melakukan olahraga sepeda statis minimal 30 menit setiap hari.

Sepeda statis saya letakkan di ruang keluarga supaya tidak sepi. Di depannya ada TV dan DVD. Sehingga saya bisa bersepeda dengan menonton, mendengarkan musik, browsing, melihat anak-anak bermain atau dzikir al ma’tsurat. Setelah sepeda statis, saya melakukan stretching untuk low back pain, push up (sekedarnya wkwkwkwk…) dan plank 1 menit. Kuatnya masih segitu. Prinsipnya, pengen sehat tapi jangan tersiksa.

Semoga bermanfaat. Salam sehat!!!

diabetes.jpg

Ahok sang gubernur DKI berlatarbelakang Tionghoa Kristen, yang dipuja bak dewa oleh Ahokers dan disinisi setengah mati oleh non Ahokers akhirnya tersandung masalah yang cukup besar, dugaan kasus penistaan agama karena meminta warga Kepulauan Seribu jangan mau dibohongi pakai ayat QS Al Maidah ayat 51. Wall facebook yang memang sudah riuh dan panas dengan isu pilkada DKI bak makin tersiram bensin. Terakhir sebelum tulisan ini diturunkan adalah adanya aksi demo besar-besaran di balaikota yang menuntut proses hukum buat Ahok.

Yang ingin saya tulis di sini bukan sikap saya terhadap aksi mendukung-tidak mendukung Ahok maupun demo. Saya ingin menuliskan fenomena sebagian muslim di facebook yang tampak masih mendukung Ahok, terkadang dengan jelas mendukung pernyataan ‘biarpun kafir, yang penting gak korup, hingga ikut sinis dengan aksi yang mengakibatkan rusaknya taman. Bertebarannya dalil-dalil dan nasihat ulama tentang ghiroh dan tafsir QS Al Maidah 51 tidak membuat muslim ini serta merta antipati dengan Ahok. Ada apakah gerangan? Ada yang salah dengan cara dakwah kita?¬† Lanjut Baca »