Umur Hilmi saat ini 2 tahun 5 bulan. Alhamdulillah 2 minggu terakhir, mulesnya muncul mulai hari ke-2 setelah BAB terakhir. Meskipun terkadang baru sore harinya, malam, bahkan keesokan harinya keluar. Itu sudah sangat jauh lebih baik.
Dulu, Hilmi BAB tiap 1 minggu, bahkan bisa hingga 10 hari. Mules-mules baru mulai hari ke-5 atau ke-7. Aku googling literature & surat2 moms tentang konstipasi. Tapi, jarang banget kasus itu. Yang sering ya diare. Yang ada justru terapi alternative seperti memberi minyak sayur, makan tepung kanji atau tepung …. (lupa). Gaaa….berhasil juga. Minum yakult sampai lebih dari 2x/hari (itu karena anaknya doyan), makan oatmeal biarpun sedikit (coz dia kurang suka), masih juga susah. Hasil yang lebih baik ditunjukkan setelah dia makan mangga. Umumnya, mules lebih cepat. Pepaya, alpukat, justru ga doyan. Air putih pun sedikit. Minumnya Cuma cret…seteguk aja. Itu pun dengan mulut yang membuka kecil.
Setelah baca literature, Aku seringkali khawatir dia menderita megacolon ultra short segment atau slowly transmission constipation (STC). Gimana ga, penegakan diagnosisnya udah susah. Udah gitu terapinya bedah.
O,iya. Hilmi susah makan. Makannya sedikit, picky, minum putih sedikit. Tiap hari aku bingung mau masakin apa untuk dia. Dia suka ikan, ga suka sayur, pun ga mau kuah. Anak kecil biasanya kan suka makan bakso, dia nggak.
Sekitar 2 bulan yang lalu. Hilmi mengkonsumsi Curcuma Plus. Dulu, sebenarnya sudah pernah. Tapi nafsu makannya ga bertambah. Jadi sempet berhenti konsumsi vitamin. Berhubung mama (neneknya Hilmi) datang, program vitamin dijalankan lagi. Meski makan ga terlalu doyan, ngemilnya lumayan juga. Roti, biscuit, susu kotak habis 3 sehari meski ga langsung habis.
Sekitar 3 minggu yang lalu, Hilmi batuk lama. 2 minggu ga sembuh2 sampai harus kuasepin (nebulizer). Akhirnya, kontrol ke SpA. Beliau menanyakan perkembangan BAB Hilmi gimana, nafsu makannya gimana…Kesimpulan dia masih sama. Kemungkinan bukan megacolon, tapi karena makannya sedikit. Akibatnya tinja ga cukup besar untuk menekan rectum. Akibatnya rangsang mules ga terjadi.
Sakit batuk itu mengakibatkan Hilmi tambah kurus. Suatu kali bapaknya marah sama Hilmi karena ga mau makan. Dia maksa Hilmi untuk makan. Tadinya aku takut Hilmi jadi muntah-muntah en tambah males makan seperti dulu (Dulu Hilmi sempat dirawat di RS. Saat dipaksa makan dia nangis, muntah & ngambek benar2 ga mau makan meski dimarahi. Ngambeknya hilang saat sepupunya datang. Karena bermain-main, dia lupa akan ngambeknya & mau makan).
Tapi dengar penjelasan SpA yang mengatakan BAB-nya susah karena makannya sedikit, aku juga ikut-ikutan marah & maksa Hilmi untuk makan. Hilmi nangis-nangis yang nyebelin banget, kusuruh diam. Kalau ga bisa diam & mulai hilang kesabaran, aku bilang kalau gitu mama ga mau tidur bareng hilmi lagi. Jadi saat dia sambil nangis-nangis mau senderan atau tiduran di atas pangkuanku, kutepis. Malah kutinggal pergi. Tambah nangislah dia sekencang-kencangnya. Aku bilang, makanya makan. Akhirnya dia mau makan. Kalau dia tampel hingga makanan jatuh, kupukul tangannya dan kutambahin nasi lagi. Ga enak & nyapekin hati. (Iya kan? Marah2 bikin capek)
Seingat aku marah2 ini berlangsung 3 hari. Setelah itu, ajaib. Hilmi jadi patuh makan. Meski kadang harus agak ditegasin, tapi ga sampai bikin aku kesal & marah2 lagi. Dan lebih ajaibnya, semua makanan, asal ga pedas dia mau makan, termasuk sayur berkuah. Dalam hati aku bertanya ini karena vitamin atau karena aku marah-marah? Aku juga bertanya, apa memang orang tua sebaiknya marah/lebih tegas bila anaknya susah makan. Selama ini, orang tua bingung mau masak apa, harus bujuk2 dia untuk makan, ngejar2 dia dulu untuk makan…tapi hasilnya ga memuaskan. O,iya. Makan bersama memang belum pernah dicoba karena di keluarga kami memang tidak ada kebiasaan itu. Bapaknya Hilmi kan baru pulang kantor malam. Aku makan malam jam 7-an, Hilmi biasanya makan terakhir sore.
Setelah Hilmi gampang makan, aku lebih semangat member sayur-sayur berkuah. Susu pun dia mau minum di sela-sela makan (Jadi, ga mau makannya selama ini bukan karena lambungnya sempit). Tapi, kali ini aku beralih ke susu putih & strawberry, coz ada yang bilang susu coklat bikin susah BAB. Alhamdulillah…, Hilmi mulesnya mulai lebih cepat datangnya. Meski ga langsung BAB
Ternyata, kuncinya memang makan banyak, cukup serat & air putih. Minum vitamin penambah nafsu makan masih kulanjutkan
Ya Allah, moga-moga ke depannya, Hilmi dimudahkan untuk BAB.




