Feeds:
Tulisan
Komentar

Lagi Malas Update

2 minggu lebih saya ga update tulisan di blog…1 minggu lebih ga update status facebook….Mungkin hampir 1 bulan ga nengok kompasiana. Harapannya sih, ada temen-temen yang merindukan saya (ciee….).

Keengganan saya ini akibat kelelahan kerja (wuekk…emang saya doang yang kantoran). Apa mau dikata, begitulah kenyataannya. Sejak awal Januari, saya dan rekan-rekan di kantor berpacu menyelesaikan target akreditasi  Rumah Sakit pada Maret 2010 ini.

Sebenarnya pembentukan tim akreditasi sudah ada sejak Januari 2008 (Gubrakk….Lama banget). Tapi, tanpa adanya komitmen pekerjaan ini menjadi terbengkalai. Terpuruk diantara pekerjaan lainnya.

Baru setelah dikejar deadline, semuanya pada nyadar. Kalau ga dapat akreditasi, surat ijin operasional Rumah Sakit yang akan berakhir 2010 ini terancam tidak dapat diperpanjang.

Saya kebagian kerja sebagai Ka Tim standarisasi di bidang Pelayanan Unit Gawat Darurat. Ada 7 standar yang dinilai. Totalnya ada 31 parameter yang dinilai meliputi : Standar 1. falsafah dan tujuan, Standar 2. administrasi dan pengelolaan, standar 3. staf dan Pimpinan, standar 4. Fasilitas dan Peralatan, standar 5. Kebijakan dan Operasional, standar 6. Pelatihan & Pengembangan SDM, standar 7. Analisis dan Evaluasi

Tiap hari bila tidak sedang pelayanan di poli atau UGD, kerjaannya mantengin tulisan dan komputer. Bikin capek mata. Pun otak diputer dan diperas supaya tiap hari selalu ada kemajuan. Sesekali memencet tombol telepon, mengingatkan anggota tim untuk bertemu. Saya sedang rajin-rajinnya menulis. Menulis catatan kemajuan kerjaan di agenda, merancang dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan, jadinya….saya malas menulis di tempat lainnya.

Oke deh teman, trims untuk baca curhat (sekaligus update status saya sekarang). Doain kerjaan saya cepet kelar dan Rumah Sakit saya mendapatkan akreditasi di 5 pelayanan.

Muktamar IDI yang berlangsung di Palembang pada 18 – 22 Nopember 2009 membuahkan beberapa hal yang menggembirakan. Salah satunya adalah pembentukan himpunan dokter spesialis akupuntur Indonesia (PDAI). Dengan dibentuknya PDAI, lulusan Spesialis Akupuntur RSCM memiliki wadah sehingga nantinya dapat mengatur standar kompetensi, etika, dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan SpAk. Lanjut Baca »

CERITA DIBALIK SARUNG

Hari Jumat lalu, 25 Desember 2009, aku kebagian jaga pagi di UGD. Pasien hari itu datang satu per satu, nggak sekaligus brek banyak, akibatnya ga bisa istirahat. Hehehe…. Sekitar jam 1-an, seorang laki-laki, masih memakai baju koko dan sarung masuk ke UGD. “Dok, nanti ada pasien pingsan di mesjid”, begitu informasi yang ditujukannya padaku. Lanjut Baca »

Hilmi Tidak Mau Makan

Minggu ini saya agak puyeng dengan kondisi anak saya, Hilmi, yang berumur 1 tahun 4 bulan. Pasalnya dia menolak makan. Sudah dicoba memberi bubur, baik instan, beli di abang-abang lewat, maupun buat sendiri. Sudah pula dicoba nasi seperti biasanya. Namun hasilnya tetap sama. Dia menolak, atau melepeh makanannya.

Meski tidak terlalu suka minum susu dan makan pada sehariannya, umumnya dia masih mau ngemil. Tapi kali ini tidak sama sekali. Aduuuhh….Kenapa ya? Saya lihat tidak ada masalah dengan gigi dan gusinya. Apa karena dia ngambek karena saya minggu ini training. Pergi jam 7 pagi, pulang jam 10-11 malam. Jadi dia cuma lihat saya sekali di pagi hari? Bingung. Lanjut Baca »

Dahulu, saya tidak pernah terpikir untuk menjadi dokter ahli kulit, apalagi kecantikan. Bukan karena takut dengan persaingan PPDS-nya, saat itu saya hanya berpikir saya adalah tipe ong yang cuek dengan penampilan. Joke yang saya utarakan selalu adalah, “Kasihan pasiennya. Nanti mereka minta diriku untuk memperbaiki kulit yang kurang kinclong, kerut-kerut di wajah, atau flek-flek yang timbul….aku malah bilang ibu udah cantik kok. Ga perlu diapa-apain lagi”. Hehehe…… Ibaratnya standar kecantikan dan estetika gue di bawah rata-rata. Lanjut Baca »

D : ‘Perawatan wajah di mana,mba?’, tanyaku pada TS, seorang dokter gigi spesialis. (Pagi tadi aku memeriksakan gigiku di temenku ini)

TS : ‘Di Omni. Tapi sekarang nggak lagi. Dulu pernah di…..,……(off the record), tapi ga cocok. Sayang, dokter Omni-nya sudah mengundurkan diri’.

D : ‘Oh, gitu? Kenapa?’

TS : ‘Sejak kasus Omni, jumlah kunjungan pasien menurun sekali. Ada tagihan dokter praktek yang belum terbayar. Untung gigi punya pembayaran sendiri. Pasien juga masih datang untuk yang kontrol-kontrol saja. Kalau yang baru, hampir ga ada’

D : “Mmm….’  (mencoba empati terhadap kondisi TS)

TS : ‘Karyawan terancam di PHK-kan. Efek ini yang kurang ditanggapi masyarakat……..Sebenarnya Omni sudah mengajak damai, hanya Prita-nya ga mau. Malah sekarang berita diblow up untuk menyaingi berita Century’.

D :’Beneran ga mau,mba? Saya pikir, Omni-nya yang sombong nggak mau damai’.

TS : ‘Kata temen saya sih begitu. Ada juga video rekaman saat Prita marah-marah dan keluar dari kamar dengan….(tidak usah diceritakan. Karena saya tidak melihat sendiri). Intinya sih, Prita is not a nice patient’.

D : (Saya ngangguk-angguk saja). ‘Masalahnya begini mba. Masyarakat sepertinya gusar karena melihat sosok Prita, seorang ibu 2 anak, sendirian, yang melawan perusahaan besar. Ibaratnya wong cilik ditindas karo wong gede’. (Orang lemah ditindas orang yang kuat)

Setelah percakapan tersebut, saya bertanya-tanya : Apakah sebenarnya yang terjadi? Benarkah telah terjadi seperti yang dikatakan Prita, RS OMNI menggunakan hasil lab palsu supaya pasien dirawat?

Benarkah, Prita tidak harus dirawat? Bukankah dia mengaku pusing dan sangat lemah?

Benarkah dokter tidak memberikan penjelasan apapun kepada Prita mengenai penyakitnya? Ataukah Prita yang memaksa dokter untuk menegakkan diagnosis penyakitnya meski tidak ada hasil pemeriksaan yang merujuk pasti ke arah diagnosis tertentu?

Bengkak terkadang terjadi pada pasien Demam Berdarah akibat berkumpulnya cairan di jaringan tubuh. Ini murni proses penyakit, bukan akibat kesalahan obat.

Yang pasti terjadi adalah komunikasi yang tidak lancar di antara Prita dan petugas RS Omni.

Semoga, ini bukan kasus kecelakaan mobil lawan motor. Meskipun motor yang salah, nyelip sembarangan, menikung dengan tajam di depan mobil……..namun diharuskan rela untuk menolong dan mengantar pengendara motor ke RS. Hal itu dianggap wajar karena mobil kendaraan yang lebih besar dan pengemudinya dipastikan lebih nyaman.

Bila Jendral Donald MacArthur terkenal dengan istilah ‘OLD SOLDIER NEVER DIE, THEY JUST FADE AWAY’, maka Sabtu kemarin, pada 5 Desember 2009, di Dharmawangsa Essence, saya menyaksikan yang sebaliknya.

Hari itu, Pak Pray beserta tim kampanye menggelar acara launching buku hasil ngeblog Pak Pray di Kompasiana yang berjudul INTELIJEN BERTAWAF. Teroris Malaysia dalam kupasan. Buku ini adalah buku kompasiana yang ke-2.

Lanjut Baca »

Maafkanlah, aku salah tidak mengenal UU IT

Aku hanya menggoreskan kekesalanku

Tidak terpikir akibatnya

Saat ini aku bagaikan melawan raksasa

Seseorang melawan sebuah….

Alangkah tidak imbangnya

Kemanakah teman-teman yang dulu mendukungku?

Berkaca dari kasus Prita, menurut saya sebagai pengamat jarak jauh, yang terjadi dengan Prita sebenarnya akibat jeleknya komunikasi dokter dan pasien. Tidak ada indikasi sengaja minta pasien dirawat karena kondisi Prita saat itu sepertinya memang udah ga kuat, lemes dan butuh dirawat. Mengenai kesalahan laboratorium, setidaknya dokter sudah memberitahu ada kesalahan hasil lab terdahulu. Lanjut Baca »

Menyedihkan sekali membaca berita detiknews dan kompasiana hari ini. Isinya Pengadilan Tinggi Tangerang menguatkan putusan pengadilan negeri Tangerang bahwa Prita dinyatakan bersalah dan diperintahkan membayar 204 juta, serta meminta maaf kepada penggugat. Sebagai seorang biasa, saya merasakan ketakutan Prita menghadapi raksasa yang berbentuk badan usaha. Sebagai seorang ibu, saya trenyuh memikirkan nasib anak-anak Prita. Pasti mereka merasakan beban berat ibunya. Sebagai seorang yg bukan milyarder, uang segitu dapat dari mana? Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »